Masjid Said Naum

Arsitektur Masjid Said Naum

Perancangan Masjid Said Naum ini bisa dikatakan sebagai satu perancangan yang begitu sukses dalam usaha mendatangkan kosa bentuk masjid tradisionil Jawa ke ungkapan ungkapan moderen Masjid yang didesain arsitek Adhi Moersid serta team ini jelas menunjukkan usaha serius menampung dua kebutuhan berlainan yakni merepresentasikan ciri-ciri arsitektur lokal/tradisionil dengan pendekatan moderen.

Masjid Said Naum

Berdasarkan catatan tercatat dari sang arsitek, pada saat mengerjakan perancangan ini sebetulnya tidak ada pretensi mengupas lalu merangkum bagaimana kebiasaan serta faktor arsitektur tradisionil bisa dimasukkan dalam rancanngan dengan ikuti ketentuan atau teori tersendiri. Tetapi yang dicoba dikerjakan ialah menemukan landasan untuk memberi arti pada ungkapan arsitekturnya baik yang merasa ataupun yang tidak rasanya.

Satu diantara landasan perancangan ialah kepercayaan jika islam adalah ajaran atau ideology yang dimanapun dia hadir tidak dengan cara langsung membawa atau memberi bentuk budaya berbentuk fisik. Di mana juga islam hadir dia siap menggunakan bermacam-macam local/tradisionil untuk jadikan jati diri fisiknya. Dari sini kita temukan banyak bangunan bangunan tradisionil yyang dengan gampang bisa beralih manfaatnya jadi masjid di beberapa penduduk yang sudah memeluk agama Islam.

Arsitektur islam Masjid Said Naum

Arsitektur islam dapat dikatakan menjadi manifestasi fisik dari penyesuaian yang serasi pada ajaran Islam dengan bentuk bentuk local. Oleh karenanya arsitektur islam dapat sangat kaya macam serta macamnya seperti yang diutarakan arsitek muslim turki Dogan Kuban jika tidak ada homogenitas serta kesatuan berbentuk dari apa yang dimaksud arsitektur Islam.

Masjid Said Naum
Arsitektur islam yang terdapat di Masjid Said Naum

Ide berikut yang digunakan sanga arsitek menjadi focus sentra dalam mendisain masjid memiliki nuansa moderen di atas tanah wakaf masyarakat keturunan mesir bernama Said Naum. Dari sisi bentuk, gubahan pertama yang mengundang perhatian ialah design atap masjid.

Sebab arsitektur atap adalah satu diantara cirri menonjol dalam arsitektur tradisionil di Indonesia/Jawa, dapatkah dipahami bila design ini coba ambil kembali karakter atap masjid tradisionil tetapi direvitalisasi.

Tampilan masjid di dominasi atap yang coba menggubah kembali atap tumpang atau meru tradisionil yang seringkali dipertunjukkan dalam bangunan sacral di Jawa atau Bali ke perwujudan baru.

Berlainan pada bangunan tradisionil, sisi atas diputas 90 derajad dari bentuk massa bangunan masjidnya ini jelas menunjukkan uusaha menarik dalam tampilkan ide baru untuk merevitalisasi bentuk atap local/tradisionil itu. Bentuk semacam itu nampaknya berkembang selanjutnya masa datang pada bangunan masjid masjid moderen ainnya di Indonesia seperti Masjid Al-Markaz Al-Islami di Makasar serta masjid Pusdai (Islamic Center) di Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Kontak Kami
SMS
Telp
WA